Tulip

Tulip
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 September 2014

Rasaku...

Rasaku,
ungkapkan tentang merah jambu padamu
mampukah aku untuk lakukan begitu
seperti kala itu, sudah kupasrahkan rasaku
pada sebuah hati yangbenar pikirku

Rasaku membatu, mulutku membisu
kelu,
ada luka yang menganga
perih,
hati yang tak lagi seperti dulu,
sejenak-sejenak meragu

Rasaku,
yang tak kumau



read more

Sabtu, 30 Agustus 2014

‘Aza Man Qoni’

“InsyaAllah mbak, besok pagi saya akan berangkat dari rumah” jawabku via telepon pada seseorang di seberang sana. Foto kami masih tergantung di dinding kamar ruang kerjaku, berjajar dengan foto pernikahanku. Empat gadis muda yang tersenyum manis dengan gayanya sendiri-sendiri. Senyum yang selalu terkenang dan selalu mengesankan, bisik hatiku.
Seperti mengorek kembali masa lalu, ketika masih bersuka ria dengan dunia Mahasiswa. Ketika kami sama-sama merenda mimpi dan memperjuangkan cita, cinta dan idealisme. Ketika saling memantapkan hati menghadapi kegalauan-kegalauan yang silih berganti, bahkan kegalauan yang bersamaan menimpa kami. Dan ketika akhirnya kami harus menempatkan hati dan memposisikan diri mengikuti takdir Illahi.
Entah sejak kapan istilah rempong itu melekat pada kami. Entah siapa pula yang memberikan sebutan itu pertama kali.
“merah aja  ya”
“hijau aja mil, biar seger diliatnya”
“kalau hijau ya kagak panteslah mak, mending warna yang agak soft aja deh”
Perdebatan kami tak berujung pada sebuah keputusan final. Padahal hanya menentukan warna pada logo yang sedang dalam proses pembuatan. Warna-warna itupun hanya berdasar selera kami saja, bodo amat dengan makna filosofisnya, yang penting ada bentuk dan rupanya dulu baru dimaknai. Pembuatan logo itu diserahkan pada yu Mil. Yu Mil adalah teknisi kami, dia jagonya otak-atik komputer, apapun bisa diselesaikan kalo diserahkan padanya dan hasilnyapun maksimal tidak akan mengecewakan. Satu lagi yang khas dari yu Mil adalah kerendahan hatinya, tak pernah sedikitpun menonjolkan kemampuannya. Layar laptop yu Mil sudah menyala berjam-jam menunggu keputusan dari kami, merah, hijau atau ada pilihan yang lain.
Malam sudah larut, tak ada lagi kebisingan-kebisingan suara manusia selain kami berempat. Semua mata sudah terpejam, terlelap dalam pekat malam yang mendamaikan. Tetapi kedamaian itu belum berlaku pada kami, orang-orang yang selalu ingin sebuah kesempurnaan, dengan ego dan imajinasi yang tersembunyi dibalik tempurung kepalanya masing-masing. Tiga kali bunyi jam dinding berdentang, pertanda sebuah keputusan sudah harus ada untuk menyelesaikan sebuah logo, hanya sebuah logo.
“ya udah mil, buat aja sepantesnya, kalau harus menyatukan pendapat kita, kagak bakal jadi deadline malam ini.” Mbak Wir yang sedari tadi diam menengahi debat warna antara aku, yu Mil dan Mak El. Bagi kami Mbak Wir adalah seorang  perempuan tulen yang selalu tampil anggun dan feminin, tetapi tidak masuk tipe perempuan lemah dan cengeng. Secara aklamasi kamipun mengiyakan usul Mbak Wir yang lemah lembut itu.
Pada sepertiga malam itulah logo sebuah bimbingan belajar terbentuk. Qoni’a Course, nama yang cukup simple memang untuk sebuah lembaga bimbingan belajar. Nama yang belum bisa disejajarkan dengan bimbel-bimbel mentereng yang sudah bercabang di banyak kota. Qoni’a sendiri mengandung filosofis yang dalam, terinspirasi dari ngendikane abah Yai kami ketika ngaji ‘aza man Qoni’ yang arti jawanya adalah terimo ing pandum (menerima apa yang menjadi bagiannya). Sering orang berkata, nama adalah do’a, begitu pula dengan Qoni’a. Dengan nama itu semoga kami bisa mengontrol ego dan ambisiusme yang sering kali tak terkendali, atau bisa diistilahkan mengontol nafsu dan logika kami. Supaya kami juga bisa menjadi orang-orang yang senantiasa bersyukur dengan apa yang menjadi bagian kami dalam hidup. Termasuk bersyukur atas mimpi, cita dan cinta kami.
“Malam ini kita cukupkan sekian rapat Qoni’anya, alhamdulillah setidaknya sudah ada hasil sebuah logo untuk bimbel kita. Semoga logo ini bisa menjadi sarana awal perjuangan kita menumbuhkan  Qoni’a.”  Kata penutup dari Mak Ela, sosok yang menjadi ketua  rintisan bimbel ini. Mantan lurah pondok yang semakin mantap jiwa kepemimpinannya setelah berakhir masa baktinya. Istilah dari Mbak Wir, Mak El adalah tipe strukturalis1.
Keberhasilan itu memang butuh perjuangan panjang, dan sangat mahal nilainya. Lebih mahal dari segunung emas. Waktu dan jarak mau tidak mau harus memisahkan kami. Belum pula Qoni’a bisa berjalan, kami harus bubar jalan tidak bisa bersama-sama lagi. Berpisah satu sama lain mengikuti suratan Tuhan untuk diri masing-masing. Qoni’a baru sebuah logo ketika kami harus meninggalkannya. Membiarkannya tergantung tanpa campur tangan kami lagi. Sikon belum memungkinkannya untuk tumbuh apalagi berkembang.
Perbincangan kami terputus, kerempongan nyata kami terhenti. Rintisan kami mendirikan sebuah lembaga bimbingan belajar Qoni’a Course kini hanya tinggal sejarah, sejarah yang telah terekam oleh malam-malam sunyi. Kini malam itupun benar-benar menjadi malam-malam sunyi bagi kami. Dalam sendiri, tanpa diskusi-diskusi tentang mimpi, planing masa depan, cita dan cinta kami, dan yang paling utama adalah mimpi membesarkan Qoni’a bersama-sama. Kenangan yang selalu kuingat tentang kami adalah kebiasaan merencanakan segala sesuatu selalu berantakan, tetapi ada banyak hal yang kami lakuakan tanpa perencanaan menjadi berhasil.
“Bundaaa, maenan adek mana?” suara cadel itu mengembalikanku pada duniaku sekarang.
“oh iya adek, bentar ya bunda ambilkan,” kataku sambil menuntunnya keluar kamar kerjaku.
Keputusan untuk meniti karir di rumah memang mendilemakan awalnya. Secara pribadi, jiwaku adalah jiwa sosial yang senang berinteraksi dengan banyak orang. Beruntung, suamiku mengerti diriku sepenuhnya, termasuk impian-impianku. Meski bekerja di rumah tak menghalangiku untuk tetap berkarya dan mengamalkan ilmu. Selang setahun setelah menikah berdirilah sebuah yayasan bernama el-Qoni’, pesantren wirausaha yang didalamnya juga bernaung Qoni’a Course. Pesantren Wirausaha pertama di kota solo. Terletak di pinggiran kota Solo dekat dengan pegunungan, yang jauh dari hirur pikuknya keramaian kota. Dan persis disamping pesantren itulah letak istana keluargaku, tempat kami bernaung.
Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menahan sebuah kerinduan. Esok pagi adalah hari spesial buat kami yang akan dipertemukan kembali. Bandara Soekarno-Hatta akan menjadi bagian sejarah kerempongan kami. Aku dari Solo, Mak Ela dari Bandar Lampung, Yu Mil dari Kediri dan Mbak Wir sebagai tuan rumah sudah mengurusi keperluan keberangkatan kami, termasuk tiket pesawatnya. Karena Mbak Wir ikut suaminya menetap di Tangerang.
Interaksi yang selama ini hanya melalui HP dan Social Media, akhirnya berujung pada pertemuan. Tidak  lagi memepertemukan empat orang saja, tetapi empat keluarga kecil. Entah bagaimana awalnya, Allah sudah mengatur segalanya. Masing-masing dari kami mendapat kesempatan terbang ke Belanda dalam tenggang waktu yang sama. Yu Mil dan suaminya yang sama-sama dosen akan mengikuti seminar Internasional yang di selenggarakan oleh salah satu Universitas terkemuka di Belanda, sebagai delegasi dari kampus tempatnya mengajar. Mbak Wir yang memiliki selera unik terhadap banyak hal dan suka banget dengan bunga tulip mendapatkan tiket ke Belanda untuk mewakili Indonesia dalam rangka lomba fotografi and the best quote yang bertema Tulip. Mak Ela yang sukses dengan wirausahanya bersama suami terbang ke Belanda dalam rangka pengembangan bisnis.
Bagiku, semua ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Aku bisa berkunjung ke negeri kincir angin itu akhirnya. Bukan menikmatinya sendiri, tetapi bersama keluargaku dan sahabat-sahabat rempongku yang telah banyak memberi warna dalam kanvas hidupku. Subhanallah, skenario Allah begitu indah buat kami. Ana uridu, anta turidu, wallahu yaf’alu ma yuridu.

Tangerang,17022014
read more

Jumat, 05 Juli 2013

Selamat, untuk PAGI

Pagi
Hai pagi
Selamat pagi
Pagi yang ku nikmati
Pagi yang tak mau kusesali
Dalam pagi aku meniti, mencari
Sebuah makna dari kalam illahi rabbi
Tentang amanah menjadi kholifah bumi
Ini pagi bagian sejarah perjalanan zaman
Pagi dengan latar cahaya keemasan
Seperti halnya sebuah  perhiasan
Ini bukanlah slogan iklan
Apalagi gombalan
Suatu pujian
Anugerah
Tuhan

Kembali aku meniti dan mencari dalam pagi
Untuk memaknai amanah kholifah di bumi
Bukan berarti hanya sekadar untuk gengsi
Tetapi lebih untuk budi pekerti dan jati diri
Untuk memerankan skenario  illahi rabbi
Eee
Ide cerita yang belum pernah kuketahui
Sebelum pagi menghampiri untuk terjadi
Menuju siang yang kala pagi tak kukenali
Dan mengintip senja yang masih fifti-fifti
Illahi anta maqsudii waridloka mathlubi
Dalam skenario pagi sampai senja nanti
read more

Duhai senja,

Langit menjingga
Kepak sayap pipit berebutan menuju sarang
Ketika siluet senja yang makin kelam
Deburan ombak bagai simphoni indah
Pengiring kepulangan mentari ke peraduan
Keras, mengganas
Memecah kesunyian dalam lamunan

Duhai senja,
Kini kau rengkuh aku pula dalam peluk eratmu
Seperti yang kau lakukan pada pendahulu-pendahuluku
Setelah kau bebaskan aku menari-nari  kala pagi bersama mimpi

Duhai senja,
Pernah ku goreskan asa
Merenda cita dan cinta untuk berbahagia katanya kala senja
Kala itu kau suguhkan aku siang
Meski panas dan menyengat sungguh terasa terbakar

Duhai senja,
Kusampaikan kini padamu
Sebelum kau menenggelamkanku dalam petang
Tentang pagiku, tentang siangku
Duka lara, tangis derita semua berharga
Layaknya gosokan mutiara yang semakin cemerlangkan

Ada tawa setelah tangis, ada suka setelah derita
Begitukah cerita kala pagi dan siang itu
Yang hanya mampu ku eja tanpa makna
Tentang arti sebuah keikhlasan katanya
Meski tertatih dengan kerikil-kerikil tajam
Kini aku sampai padamu juga
Duhai senja, kupasrahkan raga dan jiwaku kini

Dalam pelukan jinggamu yang semakin hilang petang

lomba cerpen dan puisi HAS XXIII PPDAW
dimuat dalam buku antologi cerpen dan puisi santri ASY_HA_DU
read more

Rabu, 11 April 2012

Jamuan Cinta Sang Maha Cinta (saduran blog lama)

Kini aku terduduk sendiri, di serambi yang penuh kenangan ini aku mengenangnya. Tentang candanya dan gurauan-gurauan penuh nasihat dan cinta.
@@@
Bis-millah-hirrahma-nirrahim…
Suara-suara cadel itu kini selalu terdengar di kala hari menjelang malam, ba’da maghrib. Mereka adalah anak-anak balita yang tinggal di sekitar rumah kami. Semenjak suamiku memboyongku ke daerah ini, 2 tahun lalu. Rumah kami tak pernah sepi dari suara-suara cadel khas anak-anak balita.
Mas Arsyad, dialah suamiku. Sosok yang sampai saat ini senantiasa mengisi hatiku dan kehidupanku, hanya dia seorang, tak ada yang lain.
“mas tadi yang ngaji kok banyak banget” aku memulai pembicaraan setelah beliau selesai ngajari ngaji
“iya dik, tadi ada 3 santri baru. Tetangganya arya ituloh, yang rumahe di Rt 4.”
“ohw,,,, pantesan agak ramai, ternyata mereka kedatangan teman lagi.” Ucapku sambil membuat wedang jahe favorit mas Arsyad.
Selama ini kita hanya tinggal berdua di rumah ini. Rumah ini merupakan hasil kerja keras mas Arsyad sendiri, sebelum menikah denganku, dia sudah menabung untuk membuat rumah ini. Meski tak bisa di katakana bagus, tapi sangat nyaman buatku untuk menempatinya.
Kini usia perkawinan kami sudah hampir 2 tahun, tapi entah kenapa kok belum dapat momongan juga. Padahal kami sudah sangat mengharapkan kehadiran seorang jabang bayi, yang bisa melengkapi kebahagian kami. Tapi kami menyadari bahwa kami hanyalah manusia biasa, yang hanya bisa berdo’a dan berusaha,yang menentukan adalah Allah semata.
“kabeh-kabeh kersane Allah” kata itulah yang sering dia ucapkan untuk meredam keinginanku untuk segera memiliki momongan.
Dengan kehadiran santri-santri kecil itulah gejolak jiwaku agak terobati. Mendengar ucapan-ucapan cadel mereka. Yang saling berkomunikasi satu sama lain yang sering sekali bahasanya tak bisa ku mengerti maksudnya. Melihat keluguan wajah dan sikap mereka, sering membuatku malu pada diriku sendiri, pada kejujuran yang senantiasa mereka tampakan. Kejujuran yang sekarang ini sulit sekali di dapati dari kedok-kedok wajah para manusia dewasa.
“eh lio kamu tahu tidak, tadi ibuku beyiin aku mainan balu loh, mobil-mobilan”
“atu juga puna kok, kalo mobil-mobilan 3 malah”jawab anak yang dipanggil lio tadi
“gimana kalo betok kita bawa mobil-mobilan, tyus maen baleng?”
“iya atu mau, kita maen baling-baleng ya….”
Itulah beberapa celotehan santri-santri kecil mas Arsyad, yang sering menggodaku untuk tidak bisa tidak tersenyum karena lucu mendengarnya.
@@@
Malam sudah larut, kesunyian pun menghinggapi. Yang terdengar hanya detikan jarum jam yang tak pernah berhenti berputar. Sesekali terdengar suara ayam di kejauhan, yang kata guruku dulu ayam itu mengingatkan orang-orang yang belum sholat isya agar segera melaksanakan sholat.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.10, tapi mataku masih sulit untuk dipejamkan. Padahal tadi sore terasa capek banget sudah pengen tidur, tiba giliran waktu tidur mata tidak mau di tidurkan. Tiba-tiba mataku tertuju pada buku hitam yang kelihatan sudah usang, kucoba mengingat-ingat buku apa itu, dan sedetik kemudian kutemukan jawabnya. Ya itu adalah buku diariku yang sudah hampir setahun ini tak kusentuh, karena kesibukanku di kampus. Padahal dulu dialah teman curhatku yang paling setia, yang tak pernah protes ketika aku menyibukkannya dengan celotehan-celotehan hatiku.
13 mei 2000
Dee,
Bentar lagi aku akan jadi anak kuliahan loh, enaknya kuliah dimana ya?
Wah bingung nih dee, kayake enak juga ya jadi anak kuliahan.
Bisa masuk sesukanya, ga usah pake seragam lagi. Punya jas almamater juga.
Jadi ga sabar nih malah, semoga saja dapat universitas yang bagus.
Do’akan ya dee.
Satu halaman ku baca isinya hanya cerita singkat seperti itu, aku merasa lucu juga membaca tulisanku sendiri. Kulanjutkan membacaku ke lembar berikutnya.
Dimalam 1 juni,2000
Dee,
Aku deg-degan besok sudah pengumuman akhirku, kira-kira aku diterima ga ya?
Rasanya berat banget, aku minder sama pendaftar yang lain, kayake mereka sudah siap dengan segalanya, sedangkan aku hanya bermodal nekat. Duh dee benar-benar deg-degan nih. Kira-kira temenku pada keterima juga ga ya? Pokoknya aku janji dee, low aku keterima aku akan kuliah sungguh-sungguh biar tidak mengecewakan harapan ayah sama ibu.oke dee, kamu saksinya ya!!!!
Keterbelakangan bukan menjadi penghalang untuk berprestasi
Tak terasa air mataku menetes begitu saja, jatuh meluncur membasahi diari usang itu. Mungkin tulisan itu sudah mengingatkan pada janji yang sudah tertulis. Tidak mengecewakan ibu dan bapak. Itulah alasan utama air mataku menetes.
Tidak kuteruskan membacaku di halaman berikutnya, akhirnya aku mengambil pena dan mencari halaman yang kosong untuk memulai lembaran baru dalam diariku.
Setahun sudah, 1 mei 2001
Perjalanan menjadi mahasiwa telah aku rasakan, setahun sudah aku berda dalam dunia yang dulu sangat kuinginkan, meski tidak diterima di Jakarta bukan berarti perjuangan sudah berakhir. Niatku disana belajar disini juga belajar. Meski rasa kecewa itu sering memberontak, tapi aku harus menahnnya. Janjiku tidak akan mengecewakan harapan ibu dan bapak, melihat anaknya menjadi sarjana yang sukses.
Mohon ridloMu ya Rabb, Engkaulah tempatku memohon dan meminta tolong.
Lega rasanya sudah menuliskan kata-kata itu, Cuma hitam di atas putih sebagai ungkapan isi hati. Akhirnya aku ketiduran sampai subuh, dan buku usang itu masih menempel dalam pelukanku.
@@@
Teringat beberapa tahun silam ketika aku mulai mengenal sosok yang selama ini mengimamiku sholat.
Dialah Mas Arsyad, suamiku saat ini.
“Ndin besok ada acara seminar di jogja, kamu mewakili organisasi ya. Aku ndak bisa datang”
“Emang seminar apa mbak?” aku meminta penjelasan pada mbak Rateh. Dia adalah ketua organisasi keputrian dalam organisasi ini.
“dengar-dengar sih seminar keagamaan, udah kamu berangkat aja sama Citha, tadi dia sudah kukasih tahu juga” jelas mbak Rateh meyakinkan aku.
“tempat sama waktunya kapan mbak? Masak ke jogja saja, ga di kasih tahu tujuannya. Jogja luas loh mbak, kalo kita nyasar gimana?” cerocosku meminta kejelasan dari sang ketua
“iya adik manis, tempatnya tuh di kampus UIN Sunan Kalijaga jam 08.00 tepat, ga boleh telat sedetikpun”
“sudah jelas to, pa masih ada yang mau ditanyakan, aku mau kuliah nih”.
“iya mbak, udah kok,hehehe…”
Sebagai sekretaris aku ngikut aja perintah ketua, selama perintah itu tidak menyimpang dari aturan yang ada. Sedang Citha sendiri adalah wakilnya mbak Rateh. Udah deh kita terima job itu mumpung lagi libur sekalian juga jalan-jalan di kota pendidikan itu.
@@@
Acara dimulai tepat pukul 08.00 WIB, tidak kurang dan tidak lebih. Beruntung saja kami mengikuti saran mbak rateh kemarin. Alhamdulillah tidak terlambat, dan mendapat tempat di depan pula, tempat yang strategus untuk menyimak materi yang dibicarakan nara sumber.
Perhatianku tertuju pada background diatas panggung, yang tertulis “SEMINAR NASIONAL ISLAM, WAKTU REMAJAKU TIDAK HANYA UNTUK MENGUMBAR NAFSU” Dengan pembicara bla..bla…bla…
Subhanallah, kata itu meluncur begitu saja dari lisanku. Acara seperti inilah yang sejak dulu aku ingin adakan, tetapi belum sempat terwujud karena berbagai pertimbangan dari dalam diriku sendiri. Seminar berlangsung menarik dengan berbagi pertanyaan dari audience, yang kadang terdengar agak menggelikan , tapi memang benar adanya.
Yang aku kagumi adalah salah satu dari pembicara itu adalah seorang mahasiswa yang masih aktif kuliah dan dengar-dengar dia masih satu universitas dengan kami, aku dan Chita. Setelah acara itu selesai kami langsung menuju ke tempat panitia, karena selain mendapat tugas menghadiri undangan, kita juga di minta untuk sekalian meliput untuk dijadikan bulletin kegiatan organisasi kami. Sekedar tanya-tanya tentang acara tersebut.
Kami juga menemui nara sumber yang masih ada waktu untuk diwawancarai sebentar, dan salah satunya adalah mas-mas yang mencuri perhatianku atas pemikirannya yang hamper seide denganku.
“mas Arsyad bisa minta waktunya sebentar tidak?” Chita memulai pembicaraan, ternyata dia sudah tahu namanya.
“iya, ada yang bisa di bantu” ramah itulah kesan pertama yang kudapat.
“mau sekedar tanya-tanya, bahasa kerennya wawancaralah, buat bulletin kegiatan”lanjut Chita
“kayaknya pernah lihat ya sebelumnya”
“iya mas, saya Chita dulu pernah mengikuti acara di fakultasnya mas, yang dulu juga jadi pembicara kan?”
“iya-iya, yang sering bertanya itu to?”
“yap betul, dan ini teman saya, namanya Andin” di perkenalkan begitu aku hanya tersenyum saja.
Wawancara kami berlangsung cukup lama, bahasa mas Arsyad yang ringan dan santai membuat kami betah ngobrol lama dengan beliau. Sampai akhirnya kamimenyepakati untuk ngebis bareng, berhubung tujuannya juga sama.
Dari percakapan itu, aku tahu bahwa mas Arsyad adalah mahasiswa sastra Arab dan sekarang sudah semester 6, Dia sering diundang kemana-mana karena memang pandai dan omongnnya berisi, orangnya juga ramah dan rendah hati.
@@@
Setelah satu tahun menjalani kehidupan di kos, aku mulai merasa jenuh. Dengan keseharian yang begitu-begitu saja, aku ingin memperbaiki diri. Rasa-rasanya ilmuku belum ada yang dapat dibanggakan, apalagi diandalkan untuk memasuki dunia masyarakat yang semakin kompleks ini. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke pondok pesantren, mungkin karena hidayah dari Allah juga aku mau masuk pondok. Yang terkenal dengan kegiatannya yang seabrek dan sering menyebabkan ngantuk ketika di kampus. Terlepas dari semua itu aku memantapkan diriku untuk mendaftar dan bermukim disana sambil nimba kawruh dari pak yai.
Tak pernah aku sangka, mas Arsyad yang beberapa bulan lalu kuwawancarai ternyata juga seorang santri disini. Orang yang aku kagumi karena bisa menyampaikan pikiranku, maksudnya pemikiran beliau juga dengan baik sehingga mudah diterima orang, ternyata nyantri di tempat yang sekarang ini aku juga mulai belajar.
Dari situlah hubunganku dengan mas Arsyad semakin dekat, sebagai pendatang baru aku kurang begitu paham tentang dunia perpondokan. Dan rujukan utamaku adalah kepada beliau berhubung belum ada mbak-mbak’e yang akrab.
Mungkin benar kata pepatah jawa tresna jalaran saka kulina, dari kebersamaan itu kita merasa saling memiliki satu sama lain. Dan ketika aku sudah menyelesaikan s1 , dan beliau semester 2 di studi s2nya, beliau matur pada abah yai untuk mengkhitbahku. Satu tahun setelah itu dia merampungkan s2 nya dan langsung mengajar menjadi dosen tetap di kampusnya. Sedang aku mengajar di sebuah sekolah swasta milik yayasan islam. Atas kesepakatan bersama akhirnya kami meresmikan hubungan itu dengan mengucap ijab-Qabul pada tanggal 14 september 2005.
Dan tepat dua tahun berselang pada hari tanggal yang sama pula, kejadian yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Sore itu beliau pergi membelikan mangga muda untukku yang sedang hamil, tiba-tiba ada sebuah truk yang remnya blong melaju dengan kecepatan tinggi dan menyerempet motor yang dikendarai mas Arsyad sampai ke luar badan jalan, otak belakangnya mengalami pendarahan meski sempat mendapat perawatan selama beberapa hari, tapi Allah menghendaki lain. Allah mengambilnya tepat di hari jum’at ketika orang-orang sedang melakukan sholat jum’at. Beliau hanya berpesan kepadaku agar menjaga bayi yang ada dalam kandunganku, dan mendidiknya dengan bimbingan para alim ulama’. Itulah wasiat terakhir darinya, sebelum malaikat izrail mengambil nyawa milik Allah yang ditipkan pada raganya.
@@@
“Assalamu’alaikum, umi Ulul pulang…”
Suara cadel itu menyadarkanku dari lamunan panjang itu, itulah suara Muhammad Amirul Arsyad, anakku yang kini sudah berusia 4 tahun.
“wa’alaikum salam…”jawabku sembari menuju ke arah suara itu, kemudian kupeluk dan kucium keningnya sebagai tanda sayangku padanya.
>>>dalam kesendidrian>>semarang 30 mei 2010
read more