Tulip

Tulip

Jumat, 05 Juli 2013

Duhai senja,

Langit menjingga
Kepak sayap pipit berebutan menuju sarang
Ketika siluet senja yang makin kelam
Deburan ombak bagai simphoni indah
Pengiring kepulangan mentari ke peraduan
Keras, mengganas
Memecah kesunyian dalam lamunan

Duhai senja,
Kini kau rengkuh aku pula dalam peluk eratmu
Seperti yang kau lakukan pada pendahulu-pendahuluku
Setelah kau bebaskan aku menari-nari  kala pagi bersama mimpi

Duhai senja,
Pernah ku goreskan asa
Merenda cita dan cinta untuk berbahagia katanya kala senja
Kala itu kau suguhkan aku siang
Meski panas dan menyengat sungguh terasa terbakar

Duhai senja,
Kusampaikan kini padamu
Sebelum kau menenggelamkanku dalam petang
Tentang pagiku, tentang siangku
Duka lara, tangis derita semua berharga
Layaknya gosokan mutiara yang semakin cemerlangkan

Ada tawa setelah tangis, ada suka setelah derita
Begitukah cerita kala pagi dan siang itu
Yang hanya mampu ku eja tanpa makna
Tentang arti sebuah keikhlasan katanya
Meski tertatih dengan kerikil-kerikil tajam
Kini aku sampai padamu juga
Duhai senja, kupasrahkan raga dan jiwaku kini

Dalam pelukan jinggamu yang semakin hilang petang

lomba cerpen dan puisi HAS XXIII PPDAW
dimuat dalam buku antologi cerpen dan puisi santri ASY_HA_DU
read more

Kamis, 29 November 2012

Renungan Dari Desa KKN

Menempuh kuliah tidak hanya di kampus saja, kuliah (belajar) bisa dimana saja. Apalagi untuk belajar tentang hikmah dalam kehidupan. 
Desa Kunir, merupakan nama sebuah desa yang menjadi bagian dari Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak. Kunir terletak di bagian selatan kota Demak, dekat dengan perbatasan Demak-Purwodadi. Seperti pada umumnya daerah Demak merupakan kota yang panas, dengan suhu yang tinggi, begitu pula di desa kunir ini.

Dan di Desa Kunirlah masa pengabdianku dimulai, merealisasikan salah satu trilogi mahasiswa, yaitu pengabdian kepada masyarakat yang biasa kita sebut KKN (kuliah kerja nyata). Saya tidak memibicarakan tentang bagaimana jalannya KKN saya, karena menurut saya KKN ini biasa-biasa saja. Belajar banyak dan banyak belajar dari masyarakatlah yang saya dapatkan.
Masyarakat pedesaan yang saya temui, merupakan masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah kebawah. Akan tetapi yang saya salut dari masyarakat ini adalah religiusitasnya yang tinggi dengan segala keterbatasannya. Ada sebuah cerita yang saya alami sendiri, ketika sholat magrib. Sore itu langit begitu gelap, dan petir saling bersambaran bersamaan dengan lantunan suara adzan magrib dari setiap langgar yang ada di desa ini. Pertama kali aku ikut jamaah dilanggar tersebut dan tak kusangka ada sebuah hikmah yang bisa aku pelajari dari mereka. 
Hujan tak kunjung reda ketika takbir sang imam sudah dilaksanakan, bacaan surat Al-fatihah begitu khusuk di lantunkan oleh sang imam kemudian dilanjutkan dengan bacaan surat pendek. Ketika surat pendek belum sampai selesai, tiba-tiba sang imam membatalkan sholatnya karena guyuran air hujan yang masuk ke mimbar imam. semua jamaah pun batal sholatnya. Untuk melanjutkan sholat, kami harus mencari tempat yang tidak basah karena air hujan yang nrucuh. akhirnya dipilihlah tempat jamaah putri untuk melanjutkan sholat, meski dalam keaadaan seperti itu sholat jamaah tetap terlaksana.
Rasa salut dan bangga terhadap warga desa tak bisa kupungkiri, mereka bukan orang-orang yang menempuh pendidikan tinggi. Mereka juga bukan orang-orang dengan ekonomi menengah keatas. Dan mereka juga bukan orang-orang yang bertitle tinggi. Sekali lagi mereka adalah petani, pedagang kecil dan ibu rumah tangga biasa. Tapi mereka adalah sosok-sosok yang bisa memaknai kehidupan dalam kesederhanaan dan keterbatasan dengan iman dan syukurnya kepada Sang Maha segalanya Allah SWT.

read more

Kecantikan dalam pantulan cermin

Jika aku boleh berpesan, “rawatlah akhlakmu, laksana sebuah tanaman yang kau sayang, setiap hari kau menyiramnya dengan tambahan iman, kadang kala kau pupuk dengan member manfaat kepada sesama”.
Selalu malam yang membawaku untuk kembali memencet tombol-tombol alphabet di laptopku, kini tentang cermin.
Ku menghadap cermin, dan kulihat pantulan diriku disana, dia tak bicara, tapi dia menyatakan apa adanya. Pantulan itu memperlihatkan seorang gadis yang ternyata tak secantik biasanya. Entah apa yang membuat cermin menunyatakan seperti itu, padahal orang yang dimaksud adalah orang yang sama.
Ternyata ada sebuah rasa ingin tahu yang mendalam, tentang apa maksud dari semua pernyataan cermin itu. Banyak raut wajah yang ditampilkannya. Dan akhirnya aku mulai mempelajarinya.
Tak ada yang salah dengan cermin, perbedaan itu muncul dari pemikiran dan hati kita. Terkadang kita melihat wajah ini tampak cantik rupawan, tapi di waktu lain akan melihat raut wajah yang jauh dari cantik. Banyak kosmetik yang kita gunakan untuk memoles wajah ini hanya untuk mendapat pernyataan “cantik” dari cermin. Banyak uang yang kita keluarkan untuk membeli kosmetik kecantikan itu, padahal kalau kita gunakan untuk kepentingan lain masih banyak yang lebih bermanfaat.
Kecantikan itu tidak dinilai oleh cermin, kecantikan mutlak itu terletak pada pemikiran dan hati yang mapan tercermin dari tingkah laku yang dilakukan. Secantik apapun fisik seseorang pasti akan pudar seiring bertambahnya usia, tetapi lain halnya dengan pemikiran dan hati. Pemikiran dan hati yang mapan akan semakin terlihat pesonanya dan tak kan pernah termakan usia.
Sadarilah kecantikan fisik ini sebuah anugerah, anugerah sementara yang Allah titipkan kepada kita. Boleh saja kita memolesnya agar tampak lebih indah, tetapi ada kecantikan yang lebih luar biasa pada diri kita, yaitu kecantikan pemikiran dan hati kita yang wajib kita poles untuk semakin mempercantiknya.

Ini sebuah renungan pribadi, bukan untuk menceramahi, karena tulisan ini juga terinspirasi dari pernyataan cermin.
read more

Rabu, 11 April 2012

Jamuan Cinta Sang Maha Cinta (saduran blog lama)

Kini aku terduduk sendiri, di serambi yang penuh kenangan ini aku mengenangnya. Tentang candanya dan gurauan-gurauan penuh nasihat dan cinta.
@@@
Bis-millah-hirrahma-nirrahim…
Suara-suara cadel itu kini selalu terdengar di kala hari menjelang malam, ba’da maghrib. Mereka adalah anak-anak balita yang tinggal di sekitar rumah kami. Semenjak suamiku memboyongku ke daerah ini, 2 tahun lalu. Rumah kami tak pernah sepi dari suara-suara cadel khas anak-anak balita.
Mas Arsyad, dialah suamiku. Sosok yang sampai saat ini senantiasa mengisi hatiku dan kehidupanku, hanya dia seorang, tak ada yang lain.
“mas tadi yang ngaji kok banyak banget” aku memulai pembicaraan setelah beliau selesai ngajari ngaji
“iya dik, tadi ada 3 santri baru. Tetangganya arya ituloh, yang rumahe di Rt 4.”
“ohw,,,, pantesan agak ramai, ternyata mereka kedatangan teman lagi.” Ucapku sambil membuat wedang jahe favorit mas Arsyad.
Selama ini kita hanya tinggal berdua di rumah ini. Rumah ini merupakan hasil kerja keras mas Arsyad sendiri, sebelum menikah denganku, dia sudah menabung untuk membuat rumah ini. Meski tak bisa di katakana bagus, tapi sangat nyaman buatku untuk menempatinya.
Kini usia perkawinan kami sudah hampir 2 tahun, tapi entah kenapa kok belum dapat momongan juga. Padahal kami sudah sangat mengharapkan kehadiran seorang jabang bayi, yang bisa melengkapi kebahagian kami. Tapi kami menyadari bahwa kami hanyalah manusia biasa, yang hanya bisa berdo’a dan berusaha,yang menentukan adalah Allah semata.
“kabeh-kabeh kersane Allah” kata itulah yang sering dia ucapkan untuk meredam keinginanku untuk segera memiliki momongan.
Dengan kehadiran santri-santri kecil itulah gejolak jiwaku agak terobati. Mendengar ucapan-ucapan cadel mereka. Yang saling berkomunikasi satu sama lain yang sering sekali bahasanya tak bisa ku mengerti maksudnya. Melihat keluguan wajah dan sikap mereka, sering membuatku malu pada diriku sendiri, pada kejujuran yang senantiasa mereka tampakan. Kejujuran yang sekarang ini sulit sekali di dapati dari kedok-kedok wajah para manusia dewasa.
“eh lio kamu tahu tidak, tadi ibuku beyiin aku mainan balu loh, mobil-mobilan”
“atu juga puna kok, kalo mobil-mobilan 3 malah”jawab anak yang dipanggil lio tadi
“gimana kalo betok kita bawa mobil-mobilan, tyus maen baleng?”
“iya atu mau, kita maen baling-baleng ya….”
Itulah beberapa celotehan santri-santri kecil mas Arsyad, yang sering menggodaku untuk tidak bisa tidak tersenyum karena lucu mendengarnya.
@@@
Malam sudah larut, kesunyian pun menghinggapi. Yang terdengar hanya detikan jarum jam yang tak pernah berhenti berputar. Sesekali terdengar suara ayam di kejauhan, yang kata guruku dulu ayam itu mengingatkan orang-orang yang belum sholat isya agar segera melaksanakan sholat.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.10, tapi mataku masih sulit untuk dipejamkan. Padahal tadi sore terasa capek banget sudah pengen tidur, tiba giliran waktu tidur mata tidak mau di tidurkan. Tiba-tiba mataku tertuju pada buku hitam yang kelihatan sudah usang, kucoba mengingat-ingat buku apa itu, dan sedetik kemudian kutemukan jawabnya. Ya itu adalah buku diariku yang sudah hampir setahun ini tak kusentuh, karena kesibukanku di kampus. Padahal dulu dialah teman curhatku yang paling setia, yang tak pernah protes ketika aku menyibukkannya dengan celotehan-celotehan hatiku.
13 mei 2000
Dee,
Bentar lagi aku akan jadi anak kuliahan loh, enaknya kuliah dimana ya?
Wah bingung nih dee, kayake enak juga ya jadi anak kuliahan.
Bisa masuk sesukanya, ga usah pake seragam lagi. Punya jas almamater juga.
Jadi ga sabar nih malah, semoga saja dapat universitas yang bagus.
Do’akan ya dee.
Satu halaman ku baca isinya hanya cerita singkat seperti itu, aku merasa lucu juga membaca tulisanku sendiri. Kulanjutkan membacaku ke lembar berikutnya.
Dimalam 1 juni,2000
Dee,
Aku deg-degan besok sudah pengumuman akhirku, kira-kira aku diterima ga ya?
Rasanya berat banget, aku minder sama pendaftar yang lain, kayake mereka sudah siap dengan segalanya, sedangkan aku hanya bermodal nekat. Duh dee benar-benar deg-degan nih. Kira-kira temenku pada keterima juga ga ya? Pokoknya aku janji dee, low aku keterima aku akan kuliah sungguh-sungguh biar tidak mengecewakan harapan ayah sama ibu.oke dee, kamu saksinya ya!!!!
Keterbelakangan bukan menjadi penghalang untuk berprestasi
Tak terasa air mataku menetes begitu saja, jatuh meluncur membasahi diari usang itu. Mungkin tulisan itu sudah mengingatkan pada janji yang sudah tertulis. Tidak mengecewakan ibu dan bapak. Itulah alasan utama air mataku menetes.
Tidak kuteruskan membacaku di halaman berikutnya, akhirnya aku mengambil pena dan mencari halaman yang kosong untuk memulai lembaran baru dalam diariku.
Setahun sudah, 1 mei 2001
Perjalanan menjadi mahasiwa telah aku rasakan, setahun sudah aku berda dalam dunia yang dulu sangat kuinginkan, meski tidak diterima di Jakarta bukan berarti perjuangan sudah berakhir. Niatku disana belajar disini juga belajar. Meski rasa kecewa itu sering memberontak, tapi aku harus menahnnya. Janjiku tidak akan mengecewakan harapan ibu dan bapak, melihat anaknya menjadi sarjana yang sukses.
Mohon ridloMu ya Rabb, Engkaulah tempatku memohon dan meminta tolong.
Lega rasanya sudah menuliskan kata-kata itu, Cuma hitam di atas putih sebagai ungkapan isi hati. Akhirnya aku ketiduran sampai subuh, dan buku usang itu masih menempel dalam pelukanku.
@@@
Teringat beberapa tahun silam ketika aku mulai mengenal sosok yang selama ini mengimamiku sholat.
Dialah Mas Arsyad, suamiku saat ini.
“Ndin besok ada acara seminar di jogja, kamu mewakili organisasi ya. Aku ndak bisa datang”
“Emang seminar apa mbak?” aku meminta penjelasan pada mbak Rateh. Dia adalah ketua organisasi keputrian dalam organisasi ini.
“dengar-dengar sih seminar keagamaan, udah kamu berangkat aja sama Citha, tadi dia sudah kukasih tahu juga” jelas mbak Rateh meyakinkan aku.
“tempat sama waktunya kapan mbak? Masak ke jogja saja, ga di kasih tahu tujuannya. Jogja luas loh mbak, kalo kita nyasar gimana?” cerocosku meminta kejelasan dari sang ketua
“iya adik manis, tempatnya tuh di kampus UIN Sunan Kalijaga jam 08.00 tepat, ga boleh telat sedetikpun”
“sudah jelas to, pa masih ada yang mau ditanyakan, aku mau kuliah nih”.
“iya mbak, udah kok,hehehe…”
Sebagai sekretaris aku ngikut aja perintah ketua, selama perintah itu tidak menyimpang dari aturan yang ada. Sedang Citha sendiri adalah wakilnya mbak Rateh. Udah deh kita terima job itu mumpung lagi libur sekalian juga jalan-jalan di kota pendidikan itu.
@@@
Acara dimulai tepat pukul 08.00 WIB, tidak kurang dan tidak lebih. Beruntung saja kami mengikuti saran mbak rateh kemarin. Alhamdulillah tidak terlambat, dan mendapat tempat di depan pula, tempat yang strategus untuk menyimak materi yang dibicarakan nara sumber.
Perhatianku tertuju pada background diatas panggung, yang tertulis “SEMINAR NASIONAL ISLAM, WAKTU REMAJAKU TIDAK HANYA UNTUK MENGUMBAR NAFSU” Dengan pembicara bla..bla…bla…
Subhanallah, kata itu meluncur begitu saja dari lisanku. Acara seperti inilah yang sejak dulu aku ingin adakan, tetapi belum sempat terwujud karena berbagai pertimbangan dari dalam diriku sendiri. Seminar berlangsung menarik dengan berbagi pertanyaan dari audience, yang kadang terdengar agak menggelikan , tapi memang benar adanya.
Yang aku kagumi adalah salah satu dari pembicara itu adalah seorang mahasiswa yang masih aktif kuliah dan dengar-dengar dia masih satu universitas dengan kami, aku dan Chita. Setelah acara itu selesai kami langsung menuju ke tempat panitia, karena selain mendapat tugas menghadiri undangan, kita juga di minta untuk sekalian meliput untuk dijadikan bulletin kegiatan organisasi kami. Sekedar tanya-tanya tentang acara tersebut.
Kami juga menemui nara sumber yang masih ada waktu untuk diwawancarai sebentar, dan salah satunya adalah mas-mas yang mencuri perhatianku atas pemikirannya yang hamper seide denganku.
“mas Arsyad bisa minta waktunya sebentar tidak?” Chita memulai pembicaraan, ternyata dia sudah tahu namanya.
“iya, ada yang bisa di bantu” ramah itulah kesan pertama yang kudapat.
“mau sekedar tanya-tanya, bahasa kerennya wawancaralah, buat bulletin kegiatan”lanjut Chita
“kayaknya pernah lihat ya sebelumnya”
“iya mas, saya Chita dulu pernah mengikuti acara di fakultasnya mas, yang dulu juga jadi pembicara kan?”
“iya-iya, yang sering bertanya itu to?”
“yap betul, dan ini teman saya, namanya Andin” di perkenalkan begitu aku hanya tersenyum saja.
Wawancara kami berlangsung cukup lama, bahasa mas Arsyad yang ringan dan santai membuat kami betah ngobrol lama dengan beliau. Sampai akhirnya kamimenyepakati untuk ngebis bareng, berhubung tujuannya juga sama.
Dari percakapan itu, aku tahu bahwa mas Arsyad adalah mahasiswa sastra Arab dan sekarang sudah semester 6, Dia sering diundang kemana-mana karena memang pandai dan omongnnya berisi, orangnya juga ramah dan rendah hati.
@@@
Setelah satu tahun menjalani kehidupan di kos, aku mulai merasa jenuh. Dengan keseharian yang begitu-begitu saja, aku ingin memperbaiki diri. Rasa-rasanya ilmuku belum ada yang dapat dibanggakan, apalagi diandalkan untuk memasuki dunia masyarakat yang semakin kompleks ini. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke pondok pesantren, mungkin karena hidayah dari Allah juga aku mau masuk pondok. Yang terkenal dengan kegiatannya yang seabrek dan sering menyebabkan ngantuk ketika di kampus. Terlepas dari semua itu aku memantapkan diriku untuk mendaftar dan bermukim disana sambil nimba kawruh dari pak yai.
Tak pernah aku sangka, mas Arsyad yang beberapa bulan lalu kuwawancarai ternyata juga seorang santri disini. Orang yang aku kagumi karena bisa menyampaikan pikiranku, maksudnya pemikiran beliau juga dengan baik sehingga mudah diterima orang, ternyata nyantri di tempat yang sekarang ini aku juga mulai belajar.
Dari situlah hubunganku dengan mas Arsyad semakin dekat, sebagai pendatang baru aku kurang begitu paham tentang dunia perpondokan. Dan rujukan utamaku adalah kepada beliau berhubung belum ada mbak-mbak’e yang akrab.
Mungkin benar kata pepatah jawa tresna jalaran saka kulina, dari kebersamaan itu kita merasa saling memiliki satu sama lain. Dan ketika aku sudah menyelesaikan s1 , dan beliau semester 2 di studi s2nya, beliau matur pada abah yai untuk mengkhitbahku. Satu tahun setelah itu dia merampungkan s2 nya dan langsung mengajar menjadi dosen tetap di kampusnya. Sedang aku mengajar di sebuah sekolah swasta milik yayasan islam. Atas kesepakatan bersama akhirnya kami meresmikan hubungan itu dengan mengucap ijab-Qabul pada tanggal 14 september 2005.
Dan tepat dua tahun berselang pada hari tanggal yang sama pula, kejadian yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Sore itu beliau pergi membelikan mangga muda untukku yang sedang hamil, tiba-tiba ada sebuah truk yang remnya blong melaju dengan kecepatan tinggi dan menyerempet motor yang dikendarai mas Arsyad sampai ke luar badan jalan, otak belakangnya mengalami pendarahan meski sempat mendapat perawatan selama beberapa hari, tapi Allah menghendaki lain. Allah mengambilnya tepat di hari jum’at ketika orang-orang sedang melakukan sholat jum’at. Beliau hanya berpesan kepadaku agar menjaga bayi yang ada dalam kandunganku, dan mendidiknya dengan bimbingan para alim ulama’. Itulah wasiat terakhir darinya, sebelum malaikat izrail mengambil nyawa milik Allah yang ditipkan pada raganya.
@@@
“Assalamu’alaikum, umi Ulul pulang…”
Suara cadel itu menyadarkanku dari lamunan panjang itu, itulah suara Muhammad Amirul Arsyad, anakku yang kini sudah berusia 4 tahun.
“wa’alaikum salam…”jawabku sembari menuju ke arah suara itu, kemudian kupeluk dan kucium keningnya sebagai tanda sayangku padanya.
>>>dalam kesendidrian>>semarang 30 mei 2010
read more

Selasa, 10 April 2012

Kartini, , , Never Die

Ibu kita kartini putri sejati
Putri Indonesia harum namanya
Ibu kita Kartini pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai Ibu kita kartini putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia
      Lagu Kebangsaan yang hanya dinyanyikan ketika tanggal 21 April...

Mari Mengenal Kartini
Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Karena perjuangnya, kemudian Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Selain itu kartini juga banyak di kenang, contohnya:

Nama jalan di Belanda
  • Utrecht: Di Utrecht Jalan RA Kartini atau Kartinistraat merupakan salah satu jalan utama, berbentuk 'U' yang ukurannya lebih besar dibanding jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Che Guevara, Agostinho Neto.
  • Venlo: Di Venlo Belanda Selatan, RA Kartinistraat berbentuk 'O' di kawasan Hagerhof, di sekitarnya terdapat nama-nama jalan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut.
  • Amsterdam: Di wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, jalan Raden Adjeng Kartini ditulis lengkap. Di sekitarnya adalah nama-nama wanita dari seluruh dunia yang punya kontribusi dalam sejarah: Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards.
  • Haarlem: Di Haarlem jalan Kartini berdekatan dengan jalan Mohammed Hatta, Sutan Sjahrir dan langsung tembus ke jalan Chris Soumokil presiden kedua Republik Maluku Selatan.
read more